Sistem Informasi Geografis Sebagai Alat Bantu Dalam Perencanaan Wilayah Dan Pengelolaan Sumber Daya Alam

2015-04-14      Artikel

Dinamika pembangunan, khususnya bagi Daerah berkembang ditandai dengan pertumbuhan berbagai bidang dan kepentingan yang meningkat dengan cepat, sehingga permasalahan yang dihadapi cenderung semakin komplek. Seperti yang terjadi pada kota-kota yang secara kontinu tumbuh dan berkembang, tekanan terhadap pemilikan lahan akan semakin meningkat. Terutama pada lingkaran wilayah maju dan wilayah belakangnya (backwash and spread effect), sering muncul konflik antara keperluan lahan untuk pembangunan fisik dengan kepentingan lingkungan yang perlu dipertahankan.

Kompleknya permasalahan yang disebabkan oleh berbagai kegiatan yang saling berkaitan dan makin banyaknya faktor yang perlu dipertimbangkan, membutuhkan penanganan masalah secara efektif dan efisien. Tidak dapat dipungkiri bahwa peningkatan pembangunan disegala bidang membutuhkan ruang/ lahan sebagai unsur utama dari pembangunan tersebut. Namun, sifat keterbatasan ruang (konstan) mestilah mendapat perhatian dalam setiap proses baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang dalam aktivitas perencanaan dan pengambilan keputusan.

Salah satu persoalan penting yang muncul dalam perencanaan dan pengambilan keputusan adalah menyangkut ketersediaan alat dan metoda/model yang akan digunakan untuk membantu pencapaian hasil yang optimal. Sebagai contoh, untuk keperluan penetapan tataguna tanah pada situasi ketika kebutuhan bagi perumahan, perkantoran, rekreasi, kawasan perdagangan/ industri dan infrastruktur yang sedang mengalami peningkatan atau ledakan pertumbuhan. Disisi lain keperluan untuk mempertahankan, melindungi dan memperbaiki lingkungan hidup perlu mendapat perhatian yang serius. Oleh karena itu suatu alat dan teknologi baru makin dibutuhkan, agar pelaku perencanaan/ pembangunan bekerja secara efektif dan efisien dalam mencari solusi permasalahan tersebut. Hal ini juga memerlukan tersedianya suatu kemampuan untuk mempertimbangkan situasi sekarang bagi tujuan pembangunan ke depan.

Untuk mencapai sasaran tersebut, informasi menjadi sangat penting sebagai petunjuk efektif dalam perubahan dinamika pembangunan yang sangat cepat. Analisis dan perencanaan harus betul-betul mempertimbangkan informasi dalam setiap proses aktifitasnya. Semua informasi yang terkait harus dimasukkan, dikelola, sehingga tersedia dan disajikan dalam bentuk yang sesuai untuk digunakan pada tingkatan yang berbeda-beda dalam satu proses perencanaan.

Hal inilah yang menyebabkan perlunya Sistim Informasi Geografis atau disingkat SIG sebagai alat dan teknologi untuk menjawab tantangan tersebut. Penggunaan SIG dalam pembangunan mampu memberikan kontribusi yang berarti dalam mengelola pembangunan tersebut pada setiap sektor dan tingkatan manajerial. Teknologi Sistem Informasi Geografis dapat digunakan untuk investigasi ilmiah, pengelolaan sumber daya alam, perencanaan pembangunan, kartografi dan perencanaan rute. SIG juga dapat membantu perencana untuk secara cepat menghitung waktu tanggap darurat saat terjadi bencana alam, serta dapat digunakan untuk mencari kawasan penduduk yang membutuhkan perlindungan dari banjir, bencana asap, gempa bumi/tsunami dan sebagainya.

Geographical Information System (GIS) adalah sistim informasi yang dibentuk untuk mengerjakan pengolahan data yang bereferensi spasial atau terikat dalam suatu sistem koordinat geografis. GIS dewasa ini banyak digunakan dalam pengelolaan tata ruang, pertanian, kehutanan maupun kelautan dan perikanan, karena GIS mampu memberikan analisi spasial yang cukup baik dan hasil yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan yang baik.

GIS dalam penerapannya mensyaratkan adanya kelengkapan data yang akurat dan mutakhir (Gunawan, 1995). Keunikan SIG dibandingkan dengan sistem pengelolaan basis data lainnya adalah kemampuannya untuk menyajikan informasi spasial maupun non spasial (atribut) secara bersama-sama dalam bentuk tumpang-susun (layer). Data atribut (diskripsi wilayah) maupun data geografis yang terikat pada aspek keruangan/lokasional disajikan dalam bentuk peta sebagai basis datanya.

Untuk menghasilkan data spasial, data inderaja (remote sensing) dapat diintegrasikan dengan data SIG untuk dianalisa maupun dimanipulasi lebih lanjut. Data inderaja tersebut dapat berupa foto udara maupun citra satelit. Data spasial mempunyai dua bagian penting yang membuatnya berbeda dari data lain, yaitu informasi lokasi dan informasi atribut yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Informasi lokasi atau informasi spasial: Informasi lokasi ditentukan berdasarkan sistem koordinat, yang di antaranya mencakup datum dan proyeksi peta. Datum adalah kumpulan parameter dan titik kontrol yang hubungan geometriknya diketahui, baik melalui pengukuran atau penghitungan. Sedangkan sistem proyeksi peta adalah sistem yang dirancang untuk merepresentasikan permukaan dari suatu bidang lengkung atau spheroid (misalnya bumi) pada suatu bidang datar. Proses representasi ini menyebabkan distorsi yang perlu diperhitungkan untuk memperoleh ketelitian beberapa macam properti, seperti jarak, sudut, atau luasan;
  2. Informasi deskriptif (atribut) atau informasi non spasial: Suatu lokalitas bisa mempunyai beberapa atribut atau properti yang berkaitan dengannya; sebagai contoh jenis vegetasi, populasi, pendapatan per tahun, dsb.

SIG menghubungkan sekumpulan unsur-unsur peta dengan atribut-atributnya di dalam satuan-satuan yang disebut layer (contohnya adalah sungai, jalan, batas-batas admininistrasi, hutan, pemukiman, rawan bencana dan lain-lain). Kumpulan dari layer-layer ini akan membentuk basisdata SIG. Dengan demikian rancangan basisdata merupakan hal yang esensial di dalam SIG. Rancangan basisdata akan menentukan efektifitas dan efisiensi proses-proses masukan, pengelolaan, dan keluaran SIG (Praharta, 2001). Secara kaidah, GIS harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :


Penulis Artikel:

FERRY ELWIND, S.Pi., M.Si







Bappeda Provinsi Riau


Jl. Gajah Mada No. 200 Pekanbaru

Telp. (0761) - 36062